<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

::selected article::


news

career

relation

reading

student

short story

::about me::

Friendster

::friend::

Anjar |  Pandit |  Firman |  Rita | 

::contact::

email: atwonk80@yahoo.com
permanent residence:
Jl. Dipati Purbo Lrg Rizqi I No 13
Jambi 36124

temporary residence:
Jl. Pogung Baru Blok H No 16
Mlati, Sleman Yogyakarta 55281

::link::

ugm |  unpad |  yahoo |  google |  ilmu komputer |  jasakom


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 25, 2005
Kontemplasi [1]

PilihanMu Tuhan ....

Tuhan ....
Aku Berjalan lewat kaki .,
Pria pilihanMU berjalan lewat Pikiran

Aku Melihat lewat mata,
Pria pilihanMU Melihat lewat Hati

Aku Berusaha hanya untuk aku,
Pria PilihanMu berusaha untuk sesamaku

Aku sesatkan hambaMu
Pria PilihanMu bimbing hambaMu

Aku sibuk putuskan benang silaturahmi hambaMu,
Pria PilihanMu sibuk merajut benang silaturahmi hambaMu

Keperkasaanku hanya untuk puaskan nafsuku..
Keperkasaan Pria PilihanMu untuk agungkan KeperkasaanMU

Aku pasti tak sanggup berenang dalam Api NerakaMU...
Izinkan aku, dapatkan Syafa'at Pria PilihanMu .....Tuhan...

(by NN)

Posted at 11:26 am by atwonk80
Make a comment  

Wednesday, January 26, 2005
GULA ITU MANIS

Kalau kita mencicipi gula, rasanya pasti manis.  Mengapa dan maunya siapa?, tentu maunya yang menciptakan gula, Dialah Allah SWT.  Kenyataan manisnya gula ini telah menggoreskan makna tersendiri bagi kita, hidup jadi terasa lengkap bahkan sempurna.  Kita tidak bisa membayangkan seandainya dunia ini tanpa gula, sekaligus tanpa rasa manis, pastilah yang merebak dalam kehidupan umat manusia adalah kehambaran, lebih-lebih kalau rasa manis ini menghilang dari wajah orang-orang yang dekat dengan kita L.

Bahkan kandungan zat glukosa yang terkandung dalam gula diyakini menjadi sumber tenaga dan energi bagi manusia.

 

Biangya Manis

            Meskipun rasa manis bisa diperoleh dari sumber yang lain, seperti buah, madu, susu dan lainnya, tapi orang akan selalu menunjuk gula sebagai biangnya rasa manis.

            Dari apakah gula ini dibuat ?, hampir semua yang ditanya pasti akan menjawab “TEBU!”.

 

Mujahadah Tebu

            Tebu adalah salah satu pohon ciptaan Allah yang terbilang unik.  Ia adalah personifikasi kehidupan yang mestinya harus kita jalani, yaitu hidup tidak untuk diri sendiri, melainkan untuk yang lain.

            Perjuangan hidup tebu yang penuh kesederhanaan, keprihatinan, tahan uji dan pengorbanan adalah sisi lain dari dirinya yang sarat makna dan hikmah bagi siapa saja yang mau merenungkannya.

 

Kesederhanaan Tebu

            Dalam kesehariannya kita melihat tebu selalu berpenampilan sangat sederhana.  Saking sederhananya sehingga banyak yang tidak menyangka kalau ia bisa menghasilkan sesuatu yang sangat bernilai bagi kehidupan umat manusia khususnya, yaitu “GULA”.

            Pohon tebu tidak pernah memoles apalagi mematut dirinya dengan polesan yang menawan berlebihan, yang dapat membuat semua  yang melihatnya jadi tertarik terhadap penampilan fisiknya.

            Tebu telah menjadi salah satu bukti bahwa Allah tidak melihat rupa dan penampilan kita, melainkan hati kita ©.

            Pohon tebupun tercatat sebagai pohon yang tidak memiliki persoalan dalam hidupnya.  Ia aman karena terlindungi oleh kesederhanaannya dari segala macam hama dan gangguan.

 

Keprihatinan Tebu

            Biasanya pohon yang dibutuhkan oleh umat manusia hanya tumbuh dilahan yang basah, minimal lembab, tidak kering.  Lihatlah pohon padi, palawija, bahkan bebuahan yang baru berkecambah.  Mereka semua akan mati ketika kita membiarkannya kekeringan dalam waktu beberapa saat saja.

            Tapi lihatlah tebu, ia tidak pernah memilih-milih tempat untuk tumbuh.  Ia pun tumbuh tidak dalam gemilang fasilitas melainkan dengan keterbatasan fasilitas.  Ia siap tumbuh di lahan seperti apapun.

            Ini mungkin pelajaran bahwa: “Jikalau kita menjadi manusia yang bermanfaat, maka kita harus tumbuh berkembang dengan dan dalam keprihatinan, tidak dengan gemilang fasilitas ataupun kemanjaan.”

 

Tebu Tahan Uji

            Pohon tebu pun tercatat sebagai pohon yang teruji tahan uji menghadapi berbagai ujian dalam hidup ini.  Lihatlah, betapapun kita menebasnya bahkan membakarnya sampai habis, tidak beberapa lama pohon tebu akan menumbuhkan tunas-tunas baru.  Seolah ia mengajarkan kepada kita untuk tidak putus harapan manakala dalam hidup ini kita menghadapi banyak rintangan, halangan bahkan tantangan.

            Harapan baru akan selalu muncul, manakala kita merasa gagal meraih harapan, merengkuh cita-cita ataupun mendekap impian J.

 

Pengorbanan Tebu

            Kalau kita ingin belajar banyak tentang pengorbanan sejati lagi hakiki, maka tebu adalah guru terbaik.  Lihatlah bagaimana ia rela “diperas” sedemikian rupa.  Lihat pulalah bagaimana ia dengan senang hati meneteskan satu demi satu sari pati hasil perjuangannya selama ini yang penuh kesederhanaan dan keprihatinan untuk dinikmati yang lain.  Dan lihat pula betapa tulusnya sang tebu saat dicampakkan begitu saja setelah habis-habisan diperas dan dimanfaatkan.

            Tebu seolah berkata kepada kita: “Wahai manusia, jikalau kau ingin berkorban untuk orang lain, maka berkorbanlah dengan tulus, dan setelah itu tersenyumlah meski mereka mencampakkanmu dalan sampah kehidupan.”

 

Tahapan Hidup Tebu

            Satu lagi pelajaran yang bisa diambil dari pohon tebu ini, yaitu pelajaran tentang tahapan hidup.  Pelajaran ini dapat diperoleh dari kenyataan pohon tebu yang tumbuh secara beruas-ruas di mana setiap ruas baru akan selalu mematangkan ruas sebelumnya, terbukti ruas bawah akan selalu lebih manis daripada ruas yang diatasnya.

            Begitulah hidup yang sesungguhnya haruslah dengan tahapan-tahapan yang terencana nyata dan pasti, di mana setiap tahapan berikut selalu dilakukan dalam upaya mematangkan tahapan sebelumnya.

            Ukuran tahapan ini pun tidak hanya tahun, bulan atau hari melainkan jam (mungkin lebih kurang lagi).  Artinya waktu yang sedang kita jalani saat ini adalah bagian dari tahapan hidup kita untuk mematangkan dan menyempurnakan waktu sebelumnya.


Posted at 09:58 am by atwonk80
Comments (3)  

Tuesday, January 25, 2005
MISTERI CINTA

Cinta pada dunia, dunia akan pergi,
Cinta pada manusia, manusia akan mati,
Cinta pada harta, harta akan habis,
Cintalah pada Tuhan, akan tetap abadi karena Dialah yang kekal abadi.

Hari ini kita begitu asyik dengan cinta. Cinta pada harta, cinta pada dunia dan cinta pada kekasih. Sehingga Laila Majnun, Romeo dan Juliet menjadi idola. Kita juga mengaku cinta kepada yang Esa yang pada hakikinya tidak pernah terlintas di sanubari. Buang orang tua, buang saudara karena kekasih diturutkan.

Tapi kita kurang rasa cinta pada Yang Esa. Kita mengaku mencintai Allah tapi tak pernah melaksanakan tanggungjawab kepada-Nya. Sering kita melafazkan cinta sehingga lalai untuk membuktikan cinta kita pada-Nya. Sekadar beribadah yang ringan kadang kala kita abaikan. Adakah itu bukti cinta kita pada Allah ?.
Sekadar beribadah karena terpaksa atau pujian, ataupun sekadar menolong sesama tanpa keikhlasan, itukah yang dikatakan cinta abadi kepada-Nya?

Amalan kita hanyalah ala kadar saja. Sadarlah amalan yang kita bangga-banggakan selama ini sebenarnya masih jauh untuk membuktikan cinta pada Allah. Cinta sebenarnya ialah cinta yang dipenuhi keikhlasan begitu juga dengan amalan kita kepada-Nya.

Tanda-tanda cinta pada Allah SWT:
1. Cinta pada kematian.
2. Bermunajat kepada-Nya.
3. Senantiasa berdzikir kepada-Nya.
4. Berjuang dijalan-Nya.
5. Melakukan ketaatan dirasakan nikmat.
6. Tidak berduka dengan kehilangan sesuatu.
7. Menundukkan nafsu.
8. Menjalin kasih sayang sesama makhluk.
9. Takut berpaling dari-Nya.


Posted at 05:58 pm by atwonk80
Make a comment  

Tuesday, January 18, 2005
SUDAH DEWASAKAH SIKAP KITA?

Terkadang sering kita bertanya pada diri sendiri, sudah dewasakah sikapku selama ini, atau terkadang kita juga sering menilai bahwa parameter dewasa ditentukan oleh usia atau pola pikir seseorang. Apakah dengan bertambahnya usia seseorang sudah menjamin bahwa dia akan lebih dewasa dalam bersikap?, jawabannya tentu saja beragam. Yang jelas banyak orang yang telah dinyatakan dewasa berdasarkan usianya, ternyata masih berpola pemikiran seperti anak-anak dan sebaliknya. Pada tulisan ini mencoba mengulas sedikit tentang dewasa.

Dr. Arnold AH seorang psikolog mengatakan, umur kita tidak ditunjukkan oleh berapa lama kita dilahirkan, tetapi oleh peristiwa-peristiwa tersebut. Artinya, seseorang dikatakan dewasa bukan karena usianya telah mencapai dewasa, tetapi karena reaksi-reaksi emosionalnya telah mencapai reaksi kedewasaan. Bisa jadi seseorang mencapai kedewasaan meskipun usianya belum dikatakan dewasa.

Thomas E Sutherland membahas kedewasaan seseorang dari tingkah lakunya. Pembahasan tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut:


Sikap yang menandakan seseorang tidak dewasa:
1. Memakai pikirannya bukan untuk menangani masalah yang dihadapi tetapi justru menghindarinya.
2. Berpikir tanpa arah.
3. Pikiran dikuasai keinginan, tidak membedakan keinginan dan realita, antara pandangan dengan fakta.
4. Tidak mampu menunggu (sabar), mudah kehilangan kontrol diri.
5. Menghindari tanggung jawab.
6. Mudah tersinggung dan sakit hati bila dikritik.
7. Bila kalah sudah siap dengan alasan-alasan.
8. Membesar-besarkan kegagalan atau keberhasilan.
9. Selalu bersikap dan bertingkah laku ekstrim.
10. Memaksakan pendapat dan kehendak sendiri.
11. Mematahkan semangat orang lain.
12. Iri melihat keberhasilan orang lain.
13. Interest pada diri sendiri.
14. Tinggi hati, memandang rendah diri dan ide-ide orang lain.
15. Mementingkan diri sendiri atau lingkungan sendiri yang terbatas.
16. Lebih senang sendirian dan mengurung diri.
17. Sering terlambat, berbuat salah dan tidak konsisten.
18. Enggan bekerja keras dan lama.

Ciri-ciri dewasa
1. Memakai kemampuan berpikirnya untuk menemukan dan menentukan tindakan ke arah pemecahan masalah yang dihadapinya.
2. Berpikiran dengan arah dan tujuan yang pasti.
3. Berpikir atas realita, dapat membedakan keinginan dan realita, dan pandangan dengan fakta.
4. Mampu menunggu dengan sabar, dan dapat mengendalikan emosi walau dalam keadaan kritis.
5. Bertanggung jawab dalam kata-kata, sikap dan keputusan, dan tindak-tanduk.
6. Terbuka, mau mendengar, dan mampu mengambil manfaat dari setiap kritik.
7. Dapat menerima dan belajar dari kekalahan. Berprinsip bahwa kekalahan merupakan kemenangan yang tertunda, dan untuk diambil pelajaran.
8. Menghadapi kegagalan dan keberhasilan secara wajar.
9. Moderat, baik dalam sikap, pandangan, dan tingkah laku.
10. Bersedia kompromi demi tercapainya perdamaian.
11. Membangkitkan semangat orang lain.
12. Senang melihat orang lain beruntung/berhasil.
13. Menaruh interest pada orang lain.
14. Rendah hati, menghargai diri dan ide orang lain.
15. Mementingkan kepentingan bersama.
16. Dapat menikmati dan mengambil manfaat bergaul dengan orang lain.
17. Dapat diandalkan, selalu bekerja sebaik mungkin, mantap dan konsisten.
18. Mau bekerja keras dan lama.

Dari penjelasan tentang kriteria sikap dewasa diatas, semoga kita bisa mengambil dan mengintrospeksi sikap kita selama ini. Sudah dewasakah sikap kita? (17-Jan-05, 8:04 AM)


Posted at 02:39 pm by atwonk80
Make a comment